140508

Thursday, ‎May ‎8 | Ponggok | Sony Nex 5n | 1/125 | F 6,3

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

I look up in the sky, what do I see?  Well blue! I look down to the earth, what do I see? Well, still blue!
Then enjoy you, living, blue!

140501

Saturday, April 26th | Ponggok | olympus e-pl 1 + underwater housing |1/125 | F 6,3

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

anyone who thinks fallen leaves are dead, has never watched them dancing underwater

140415

happiness

Entah kenapa belakangan ini saya selalu merasa sangat skeptis dengan kebahagiaan. Bagi saya sekarang, tidak ada hierarki dalam rasa, tidak ada pernyataan bahwa bahagia lebih baik dari kesedihan, atau bahwa rasa senang lebih baik dibandingkan rasa kecewa. Iya, mungkin saya mati rasa.

Mati rasa, bagi saya bukan suatu kondisi dimana manusia tidak dapat merasakan apa-apa. Mati rasa, adalah sampai pada fase dimana manusia tidak lagi merasakan bahwa suatu rasa lebih baik dari rasa lainnya. ya, seperti anggapan bahwa happiness is better than sadness.

Entah, sekarang saya justru memilih menghancurkan sekat-sekat antar rasa yang ada.

Dulu ketika berdoa, saya selalu meminta agar hidup saya bisa selalu bahagia. Tapi sekarang bahagia ini justru mengganggu saya. Iya, bahagia kenapa? bahagia untuk apa? bahagia yang seperti apa?

Entah, mungkin bahagia itupun masih sangat abstrak untuk didefinisikan.

Haaaah, saya yakin apapun perasaan yang saat ini saya rasakan, itu adalah fase dari kehidupan yang harus dihadapi setiap manusia. Sedih? emang ada apa dengan sedih? Kecewa? emang apa salahnya kecewa? semua kita pasti pernah berada pada fase – fase itu, tanpa bisa memilih, ya all we have to do, just face it! Karena jika ada hal yang tidak bisa dikontrol melebihi zat bernama fransium, mungkin itu bernama perasaan.

Entahlah, mungkin hidup bagi saya tidak lagi soal kebahagiaan, melainkan bagaiman supaya saya bisa melebur dan menjalani kehidupan. Saya merasa, saya mirip orang Aztek, yang sejak lahir seorang pendeta telah berbisik di telinganya, “kamu dilahirkan ke dunia penuh penderitaan, maka mederitalah! lalu berdamailah!” yah, apapun itu, mungkin semacam, ‘restful suffering’, penderitaan yang tenang.

Saya tahu semua orang ketika dihadapkan pada pertanyaan “tujuan hidup mu, apa?”, dan kebanyakan dari kita akan menjawab bahagia. Saya juga pernah begitu. Saya rasa tidak ada satupun manusia di muka bumi ini menolak untuk bahagia. Namun, kini saya meyakini ada hal yang tidak ternilai dibalik rasa bahagia. Dan saya pun yakin, bahwa bahagia bukan jawaban dari segala kegelisahan manusia.

Ya, bahkan saya dulu sangat berhati-hati dengan rasa. Membatasi diri, dan sebisa mungkin menjauhkan diri dari hal-hal yang menurut saya akan membuat saya bersedih atau bahkan mungkin kecewa. Sangat utilitirian, menganggap bahwa hidup adalah mungkin tentang hitung-hitungan kebahagiaan.

Tapi malam ini, rasanya cukup tenang, ketika mengetahui ada orang lain yang juga berpikiran sama. Hari ini saya membaca buku dan mendapati seorang konselor filosofis bernama Tim Lebon pernah menulis,

Kadang canda dan tawa tidak cocok, sebagian orang tidak ingin bahagia, dan itu tidak masalah. mereka hanya menghendaki kehidupan yang bermakna, dan itu tidak mesti sama dengan bahagia

dan rasa nya, pengen teriak “you do it well, Tim! I am in, I am one of them! I just wanna have a meaningful life, even it will be sad or happy, it doesn’t matter anymore now!”

140406

1ab

I thank you God for every most amazing day, for the leaping greenly spirits of trees, and for the blue dream of sky and ocean, for everything which is natural, which is infinite, which is yes..

Naval Exercise Komodo Festival 2014

Haaaaai, I am baaaack!

Ada banyak hal yang terjadi dalam 1 bulan ini. Mulai dari progress outline skripsi, usaha catering, sampe dive trip dan underwater phototgraphy contest di Batam. And I feel so blessed.

Jadi setelah memutuskan untuk ikut acara Underwater Photography Contest di Batam, saya langsung memutar otak bagaimana cara saya mengumpulkan uang untuk pergi. Kenapa? karena dalam tahun ini, saya sudah janji sama Ibu, ga bakal jalan-jalan sebelum skripsi rampung, ya kalo tetep pengen jalan, saya harus nabung sendiri, dan pake uang jajan sendiri. Alhasil keputusan untuk pergi ke Batam, membuat saya harus usaha buat nyari uang. Dan akhirnya anak-anak kosan yang baik mencoba membantu, dengan cara saya masakin mereka 2x sehari, alias catering, dan nanti mereka bakal bantu uang buat saya berangkat ke Batam. How lucky I am to have family, like them all, thanks F14 :)

Dan perjalanan ini dimulai dari tanggl 27 -30 Maret. Saya, Oki, dan Iqbal, mewakili Unit Selam UGM berangkat menggunakan cheap flight Air Asia, menuju Singapore. Kenapa ke Singapore? karena harga tiket Jogja – Singapore jauh lebih murah dibanding Jogja – Batam.

1

stupid things happen everywhere!

IMG-20140327-WA0005

selfie dulu di MRT :))

Selama di Batam, panitia Naval Exercise Komodo festivalnya menjamu peserta dengan sangat baik, mulai dari dijemput ke pelabuhan atau airport, penyediaan akomodasi dan transportasi, fasilitas selama dive trip, semuanya dikemas dengan sangat baik. Thumbs up untuk panitia! Di kegiatan ini, saya juga ketemu banyak diver dan photographer keren se-Indonesia. Yaaa, then it makes me learnt so much from them, mulai dari sharing dunia dan aktifitas penyelaman, fotografi bawah air, sampai ke sharing pengalaman seru dan keren! Iya, ini semua menyenangkan!

Hari pertama penyelaman, sebelum berangkat menuju divespot, semua peserta mendapat kesempatan untuk tes kamera dulu di kolam renang hotel, and this moment made me feeling down. Iya, ada banyak kamera – kamera keren lengkap dengan lensa tambahan dan strobe dimana-mana, ya cukup tau aja, kalau saya cuma pake tools kesayangan, sony nex 5n + housing.

IMG-20140327-WA0014

set up the camera, first!

Scuba yang selalu setia :)

Scuba yang selalu setia, BCD Tech, Regulator, masker, snorkel, booties :)

Nah, selama di kapal, saya kebagian kelompok bareng Om Jaka. Hah, beliau, salah satu divemaster keren dan ngasih banyak ilmu banget selama kegiatan ini. Mulai dari orientasi titik penyelaman, buddy system, sampai teknik dan komunikasi selama penyelaman. Ga cuma Om Jaka, saya juga ketemu dengan Om Chris dan Om James, yang pada kegiatan ini jadi juri buat underwater photography contest, and they shared the tips and tricks for underwater photography, mulai dari masalah bouyancy, konsep foto, lighting, tools, sampai ke trik foto untuk mengenali biota-biota laut. And it’s so plentiful for me!

2

Om Jaka, Om James, and me!

Ketemu banyak orang baru juga, mulai dari temen-temen diving club di Bogor, Semarang, Jakarta, Depok. Ngobrol bareng Ibu Dewi, Om Daeng, Om Wahab, and that moment was really nice!

bareng2

Peserta Naval Exercise Komodo 2014

bareng

youth divers!

Dan pada akhirnya, dalam underwater photography contest ini, 1 dari 5 foto yang saya kumpulkan, mendapat ranking 5, untuk kategori macro.

stone fish

stone fish, ikan yang jago banget berkamuflase!

pipe fish, si mungil~

pipe fish, si mungil~

Nemo

clown fish!

and here's the winner!

and here’s the winner!

hah, setengah ga percaya, atau mungkin keburuntungan. Terimakasih Ibu untuk doanya. Terimakasih Unit Selam UGM untuk kesempatannya. Terimakasih Tuhan yang selalu baik. Iya, Dia memang selalu kebangetan baik nya! Hah, saya gatau harus nulis apa lagi. Terimakasih untuk jalan yang selalu dimudahkan. Terimakasih untuk latenite conversation, Tuhan. You do it well, God. So thank You :)

Keep it up, Annisa!

skripsi (2)

Screenshot_2014-03-15-14-38-59-1

Reminder aja! Bulan ketiga di tahun 2014, di hari Jumat pagi yang penuh berkah, saya dapet email dari dosen pembimbing dengan subject “Skripsi”, cukup membuat jantung saya bekerja lebih cepat selama beberapa detik. Yaa Tuhan, how time flies, ini ternyata benar-benar tahun akhir, benar-benar semester delapan.

skripsi (1)

Jadi ceritanya semaleman saya ga pulang ke kosan, dan memilih begadang semalem suntuk sambil wifian, nemenin Rere yang lagi gundah gulana sama skripsinya. Skripsi? Iya skripsi, itu loh, grand narative nya semua mahasiswa tua, kayak saya.

Sebenernya dalam 2 hari ini udah mulai mondar-mandir perpus, dan udah mulai ada keinginan untuk mencari tahu tentang zat ajaib bernama ‘skripsi’ ini. Yaaah, bisa disebut kemajuan lah, dari yang sebelumnya bener-bener ga tau, ga niat. Dan ini diawali dengan liat-liat judul skripsi yang ada di perpus fakultas bareng Afdi.

Ga cuma main ke perpus fakultas, bahkan sore sore kelar ngampus, saya juga nyempetin diri buat bertandang ke perpus pusat, eeeh tapi malah nemunya buku Richard Dawkins yang The Selfish Gene, dan malah minjem itu buku. Ya, gapapalah, at least udah progress sampe mondar mandir di perpus.

Kembali ke kemarin malem. Random shit talking yang biasa nya ga jauh-jauh dari topik cinta akhirnya semalem engga begitu laris. Saya dan Rere malah cerita tentang John F Kennedy dan ekspansi manusia Amerika ke bulan (tumben banget!).

Jadi ceritanya dulu Kennedy pernah pidato dan mengumumkan kalau di akhir dekade, dia bakal ngirimin 2 orang Amerika ke bulan, padahal waktu itu kondisinya NASA masih nothing banget, dan belom ‘semaju’ yang sekarang. Kenapa John F Kennedy dengan percaya dirinya ngomong begitu? Ya, sesederhana, dia ga mau kalah sama Uni Soviet yang waktu itu berhasil ngirimin manusia ke luar angkasa. Gapapa, kadang kita emang butuh sombong kok! (nah loh?).

And look America now! John F Kennedy emang berhasil, Man In Space Soonest Angkatan Udara Amerika Serikat sukses bikin Neil Armstong jadi manusia pertama yang pernah tamasya di bulan selama 2 1/2 jam. Meskipun ada banyak argumen yang berusaha membantah, tapi tetep aja, bocah SD jaman sekarang taunya manusia pertama yang nyampe di bulan, ya orang Amerika, Neil Armstrong.

Dan randomnya, cerita ini malah berakhir ke lesson in learned nya Kennedy.

Dengan niat tulus dan tanpa paksaan dari siapapun, saya pagi ini sent message LINE ke Dila. Niatnya sih pengen berkoar-koar kayak John F Kennedy.

Screenshot_2014-03-14-13-21-29

Yaah, whatever it will be, it will be. Jadi semangat terus aja deh. Saya sengaja posting ini supaya selalu inget. Kayak nya alesan “saya belom pengen lulus, cuma karena ga tau mau ngapain setelah jadi sarjana”, juga ga selamanya bisa dijadiin pembenaran.

Belitung, part III

January, 24th – 27th 2014

Pagi itu saya bangun pukul 6 pagi, belum terlalu siang untuk ukuran pagi di Belitung, dimana matahari baru mulai muncul dengan malu-malu sekitar pukul 6.30. Saya segera mandi dan bersiap-siap menjemput Rere ke airport. Ya, selama 3 hari ini saya terpaksa akrab dengan rute penginapan – airport, karena harus jemput Rere dan Agung, yang entah kenapa schedule flight nya harus beda, dan bikin bolak-balik. Hikmahnya? Hah, saya jadi sangat mengenal kota ini, mulai dari toko roti, pom bensin, penjual bensin eceran yang murah, atm, kantor pos, pasar tradisional, dan hmm.. rumah makan padang. Sukurnya ga ada kata ‘nyasar’ dalam kamus saya selama berada dalam perjalanan.

Hal yang tidak bisa saya lupakan dari beberapa hari di Belitung adalah mood saya yang tidak begitu stabil. I don’t know why, but this trip feels so flat. Iya, liburan kali ini tidak seperti liburan-liburan sebelumnya yang rasanya lebih menyenangkan. Feels like just being ‘check in’ traveler.

Ya, mungkin di postingan kali ini saya cuma bisa share tempat-tempat yang saya kunjungi selama di Belitung.

1. Bukit Berahu, Tanjung Kelayar, dan Tanjung Tinggi.

Actually, tiga spot ini terletak berdekatan. Kira-kira 30 KM ke arah utara dari pusat kota, dengan waktu tempuh kira-kira 30 sampai 45 menit. Jadi dari rute perjalanan nya, spot pertama yang bakal kita lalui adalah Bukit Berahu. Dan saya sangat merekomendasikan untuk mampir ke kampung nelayan di daerah Bukit Berahu. Petunjuk arah menuju ketiga spot ini pun cukup jelas. So, don’t afraid to get lost!

c2

Resort di Bukit Berahu

Kira-kira 4 KM dari Bukit Berahu, ada pertigaan dengan penunjuk arah ke utara, menuju Tanjung Kelayar. Actually, Tanjung Kelayar adalah tipe pantai berpasir putih dan laut bewarna toska. Dari sini juga, kita bisa nyebrang ke beberapa pulau-pulau cantik dengan menyewa kapal kira-kira 350K – 400K, seperti Pulau Lengkuas, Pulau Kepayang, Pulau Gosong, dan Pulau Babi.

c7

Tanjung Kelayar

c8

capture the birds!

c9

The Beach in 3D Panorama

c16

heaven on earth

Setelah puas duduk-duduk manis di Tanjung Kelayar, saya kembali melanjutkan perjalanan ke Tanjung Tinggi, yang juga berjarak kira-kira 4 KM dari Tanjung Kelayar. Di Tanjung Tinggi, kita bakal nemuin pantai pasir putih lengkap dengan batu-batu besar, yang sekarang diberi nama Pantai Laskar Pelangi. Bagi kalian yang pernah nonton video clip nya laskar pelangi, pasti punya bayangan tentang pantai ini.

1390567063087

Tanjung Tinggi

c12

pantai laskar pelangi

c13

in between

4. Pantai Sardang

Berbeda dengan 3 spot sebelumnya. Pantai Sardang justru terletak dibagian timur Pulau Belitung, dengan rute yang masih sama dengan rute menuju Manggar. Istimewanya pantai ini menurut saya, ada di banyaknya pohon cemara yang berjejeran sepanjang garis pantai, dan gatau kenapa jadi bikin pantai ini terasa sangat menyenangkan dan nyaman banget buat sekedar duduk manis dan menghabiskan waktu buat jeprat-jepret.

d1

yang selalu bisa bikin adem

d2

travelling..

d5

share the happiness

d7

run things!

5. Pulau Lengkuas, Pulau Kepayang, dan Pulau Gosong

This’s the most favorite part in Belitung for me. Dari awal perjalanan buat sampai ke pulau-pulau ini aja udah ga biasa. Iya, jadi ceritanya ga ada satupun kapal yang berani buat nyebrang ke Pulau, karena emang saat itu lagi angin barat, dimana gelombang laut lagi tinggi-tingginya, kira-kira 2 – 3 meter. Sampai akhirnya ada satu kapal yang memutuskan mau nganter ke pulau sebrang. And see, what happened in the middle of ocean? Rasanya kayak rafting, tapi di tengah laut, lengkap dengan adegan teriak-teriak dan sendal crocs-nya Dila yang jatuh dan akhirnya hilang di tengah laut (yang sabar ya dik!). But that’s totally worth it, and so much fun!

Hah, Pulau Lengkuas adalah definisi dari salah satu potongan surga yang ada di Indonesia. Saya sempat tidur-tiduran lucu di atas pasir pantai pulau ini, and I feel like, “I don’t wanna move, God”. Ga cuma ada pantai pasir putih dan laut dengan warna biru adem, di pulau ini juga ada mercusuar peninggalan Belanda sejak tahun 1882, setinggi 19 lantai. And from the highest of that lighthouse, we can see.. haaah.. we can see heaven on earth!

e6

island in the sun

e7

Lengkuas Island

e9

from the high

e12

good thing about beach

e11

duduk cantik di mercusuar

1390998254079

the highest lighthouse

Pulau Kepayang, Dive Centre, dan Konservasi Penyu.

9a

muka-muka sumringah liat dive centre

6

happiest!

11

diveeeeee!

13

set the sea turtle free!

Di akhir perjalanan ke pulau-pulau ini, saya mampir ke Pulau Gosong. Iya, pulau ini hanya bisa dikunjungi saat air laut sedang surut. And I spent the time with my own self till the sun set over the ocean. Hah, saya sengaja tidak memotret pulau ini dengan kamera, tapi saya merekam jelas momen ini dalam memori, ingatan saya.

Ada banyak alasan untuk pergi, mungkin jenuh, capek, mungkin ingin bertemu dengan hal-hal baru, tapi bagi saya perjalanan ke Belitung ini tak jauh dari perjalanan menuju diri saya sendiri. I want to be happy and sad at the same time. Yeah, I know it sounds odd. But here I am now, do nothing, but feel so much alive in the middle of the unknown ocean.

sunset-time in the (not really) an island is wonderful again!